LATAR BELAKANG
“VUCA” merupakan istilah yang dipopulerkan oleh militer Amerika dan belakangan ini mulai digunakan dalam dunia bisnis. Sesuai namanya, istilah “VUCA” menggambarkan situasi yang volatility atau serba berubah, uncertainity atau tidak pasti, complexity atau rumit, dan ambiguity atau tidak jelas (Raghuramapatruni & Kosuri, 2017). VUCA menandai kelahiran era baru yang menuntut individu untuk bisa beradaptasi terhadap lingkungan yang dinamis, penuh perubahan, dan tantangan. Individu diharapkan memiliki sikap responsif, kemampuan analisis yang baik, dan resiliensi dalam menghadapi situasi yang tidak pasti (Das & Ara, 2014).
Kajian dalam organisasi telah mengindikasikan bahwa perubahan drastis dapat memicu terjadinya stress –hal itu ditunjukkan dalam studi pada level pemimpin/manajemen (Breen, 2017) maupun pada level karyawan (Bartscht, 2015). Jika berkepanjangan, stress dapat menimbulkan job burnout (Garossa dkk., 2008), turnover (Ito & Brotheridge, 2005), serta penurunan moral kerja (Joo & Park, 2010).
Stress dalam pendekatan psikologis diartikan oleh Lazarus (1991) sebagai interaksi antara individu dengan lingkungannya, dimana hubungan tersebut menimbulkan beban yang melebihi kapasitas individu yang bersangkutan. Stress mempengaruhi reaksi pada autonomic nervous system yang ditengarahi dengan adanya kenaikan detak jantung, aliran darah yang cepat ke otot, aktivasi kelenjar keringat dan peningkatan kecepatan dalam nafas (Kurniawan, Maslov, & Pechenizky, 2013).
Meskipun lingkungan sarat dengan perubahan akan menimbulkan ketidaknyamanan psikologis, tidak lantas semua individu akan mengalami kondisi stress berkepanjangan. Beberapa individu menunjukkan strategi yang baik dalam menghadapi perubahan; mereka ini dikenal sebagai individu yang agile (McCann & Selvsky, 2012). Individu yang agile tampaknya lebih bisa beradaptasi dengan perubahan bila dibandingkan dengan populasi normal. Mereka-mereka ini adalah pribadi yang bersedia dan mampu untuk belajar dari pengalaman, yang selanjutnya mengaplikasikan hasil pembelajarannya pada situasi yang baru (Lombardo & Eichinger, 2000). Dalam menghadapi era VUCA ini, organisasi dan industri akan berlomba-lomba untuk mendapatkan individu yang agile dan adaptif terhadap perubahan serta tantangan.
Sebagai ilustrasi, Kelly McGonigal, seorang health psychologist, menunjukkan bukti empiris bahwa stress hanya berbahaya jika individu yang bersangkutan menganggapnya demikian. Sebaliknya, individu yang menganggap bahwa kondisi stress adalah hal yang dibutuhkan untuk berkreasi misalnya, malah akan menunjukkan profil fisiologis yang lebih sehat daripada orang yang tidak mengalami stress sama sekali. lebih lanjut lagi, orang yang memiliki pandangan positif terhadap stress akan lebih adaptif dalam mengelola stress ini. Dengan kata lain, tampaknya terdapat dinamika antara aspek mind, body/brain, dan behavior individu terkait fenomena stress. Kelly menjelaskannya secara lebih lanjut dalam sesi TedTalk, klik di sini untuk melihatnya.
PARADIGMA PENGUKURAN GSAT
Galang-Satrio Adaptability Test (GSAT) dapat digunakan untuk mendeteksi kemampuan individu dalam menghadapi tekanan dan perubahan. Menggunakan prinsip-prinsip dalam pengukuran psikofisik dan biologis, GSAT diarahkan untuk mendeteksi performa individu dalam tugas yang menantang. Individu akan diberikan tugas yang tingkat kesulitannya bervariasi sehingga didapatkan parameter objektif yang prediktif terhadap kemampuan adaptibilitas individu (misal: akurasi, waktu reaksi, dll). Selama pengerjaannya, parameter fisiologis individu juga akan diukur sehingga terlihat jelas respon-respon fisiologis yang berhubungan dengan bagaimana individu menghadapi perubahan (misal: stress, dll).
REFERENSI:
Bartscht, J. (2015). Why systems must explore the unknown to survive in VUCA environments. Kybernetes, 253-270.
Das, K. K., & Ara, A. (2014). Leadership in VUCA WORLD: A Case of Lenovo. International Journal of Current Research6410-6419 , 6410-6419.
Garossa, E., Jimenez, B., Liang, Y., & & Gonzalez, J. (2008). The relationship between socio-demographic variables, job stressors, burnout, and hardy personality in nurses: An exploratory study. International Journal of Nursing Studies, 418-427.
Ito, J., & Brotheridge, C. (2005). Does supporting employees’ career adaptability lead to commitment, turnover, or both? Human Resource Management, 44(1), 5-19.
Joo, B., & Park, S. (2010). Career satisfaction, organizational commitment, and turnover intention: The effects of goal orientation, organizational learning culture and developmental feedback. Leadership & Organization Development Journal, 31(6), 482-500.
Kurniawan, H., Maslov, A. V., & Pechenizky, M. (2013). Stress detection from speech and galvanic skin response signals. the 26th IEEE International Symposium on Computer-Based Medical Systems (CBMS), (hal. 209–214). Porto, Portugal.
Lazarus, R. S. (1991). Emotion and Adaptation. New York: Oxford University Press.
Lombardo, M. M., & Eichinger, R. W. (2000). High potentials as high learners. Human Resource Management, 321-330.
Raghuramapatruni, R., & Kosuri, S. r. (2017). The straits of success in a VUCA world. Journal of Business and Management , 16-22.